Jumat, 02 Maret 2012

When a Textbook Is Online, Not on Paper

Electronic books have changed the way many people read for pleasure.

Now online textbooks are changing the way some students learn and some teachers teach.

More than one hundred seventy-five thousand students attend the public schools in Fairfax County, Virginia, outside Washington.

Last year, the school system used digital books in fifteen schools.

This school year, middle schools and high schools changed from printed to electronic textbooks in their social studies classes.

Luke Rosa is a history teacher at Falls Church High School.

His students work on school laptop computers.

He explains the idea to them this way: "It's just like a regular textbook, except it's got it all online." Peter Noonan, an assistant superintendent of schools, says with electronic textbooks, publishers can quickly update the content.

"The world's changing consistently. And the online textbooks can change right along with the events that are happening."

Online books also cost less than printed textbooks. "Usually it's in the neighborhood of between fifty and seventy dollars to buy a textbook for each student, which adds up to roughly eight million dollars for all of our students in Fairfax County.

We actually have purchased all of the online textbooks for our students for just under six million dollars."

Many students like the idea because it means they do not have to carry a textbook around. Also, they can write notes on their work and save the notes in their account.

But one student complained that the Internet connection does not always work.Social studies teacher Michael Bambara says the e-book he uses in his government class is better than a printed textbook.

He likes the way it has materials for students with different reading levels. "So a person can individualize their learning and I can individualize their instruction." But the students also need Internet access when they are not at school.

About ten percent of students in Fairfax County do not have a computer or online access at home. Public libraries in the county have free Internet. There are also after-school computer labs as well as computer clubhouses supported by the county.

Other school systems in the area are considering online textbooks.

Officials in Prince George's County, Maryland, plan a test project next year. A survey showed that forty percent of students there do not have computer access at home.

We have a video about online textbooks at voaspecialenglish.com. For VOA Special English, I'm Carolyn Presutti.(Adapted from a radio program broadcast 02Feb2012)


Jumat, 17 Februari 2012

Big Investors, Small Farmers in Africa: a Fair Deal?


Big Investors, Small Farmers in Africa: a Fair Deal?

Foreign investment in African land is growing. Countries like China, Saudi Arabia and South Korea are leasing or buying millions of hectares to grow food for their people.

Research shows that many large land deals lack protections for small farmers.

Contracts may guarantee leases for up to ninety-nine years, leaving local people without land for generations.

Better practices balance exports with local food needs and give farmers ways to enforce promises by investors.

They also make clear what kinds of jobs and how many jobs will be created.

Smallholders can gain influence if they form cooperatives or unions or have the support of nongovernmental organizations.

There are different business models for cooperation between investors and local farmers.

Lorenzo Cotula is a senior researcher at the International Institute for Environment and Development in London.

One popular method, says Mr. Cotula, is contract farming: "Contract farming has been around for a very long time and which essentially involves a company providing credit, inputs like seeds and fertilizers and training and all that, and then buying produce from the farmers at a fixed price when harvest time comes.

"Companies usually deduct the cost of the inputs from the final purchase price.

He says contract farming represents up to sixty percent of tea and sugar farming in Kenya and one hundred percent of cotton farming in Mozambique.

Contract farming may give farmers more access to markets for high-value crops. But Mr. Cotula found that contracts often go to wealthier farmers.

Poorer farmers often work as labor on the contracted farms.

The price that companies pay to farmers may be low, and companies might not honor purchase agreements when market conditions change.

Also, growers may go into debt when the company deducts payments for inputs from the final purchase price.

Another business model is a joint venture.

Lorenzo Cotula says an equity stake, or share of ownership, in a business can give communities a voice in decision-making.

It can also provide income in the form of dividend payments.

But a practice called "transfer pricing" can make those dividends disappear.

Prices are inflated or deflated in deals with companies linked to the partner in the joint-venture.

This practice reduces profits for the joint-venture company and dividends for smallholder partners.

As a solution, contracts may require fair market prices for sales to partners.

For VOA Special English, I'm Alex Villarreal.

(Adapted from a radio program broadcast 10Jan2012)

Source :


Jumat, 18 November 2011

Kamis, 17 September 2009

Learn English

Sumber Gambar :

Belajar Bahasa Inggris Yuk

Menguasai bahasa inggris di era sekarang ini merupakan sebuah keharusan, supaya kita kita tidak tergilas oleh kemajuan zaman. Tapi masih banyak dari kita yang tidak percaya diri untuk berbicara dalam bahasa tersebut padahal kita telah lama mempelajarinya, ada apa sebenarnya? Mungkin kita harus kembali menelaah kembali cara belajar kita selama ini.


Belajar bahasa Inggris tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Yang penting adalah kemauan dan ketekunan. Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.

Way of life
Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai bahasa ibu, umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut, karena setiap hari kita dikelilingi oleh bahasa Inggris dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif, kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita. Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di manapun. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan.

Total commitment
Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris. Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). Dan yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris. Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek fisik, mental, dan emosional ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.

Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya.

Beyond class activities
Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas : empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas : berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.

Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing.

Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.

Auditory learners
Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.

Visual learners
Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual.” Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual : flow chart, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.

Kinesthetic learners
Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut. Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

Sumber :
17 September 2009

Belajar Bahasa Inggris ala Anak Gaul

Para blogger terkadang menyisipkan kata atau kalimat dengan bahasa Inggris, baik dalam tulisan yang di-posting di blognya maupun ketika memberi komentar di blog orang lain. Mungkin maksud hati supaya lebih gaya. Tapi tak jarang, kata atau kalimat bahasa Inggris yang ditulis itu keliru atau bahkan salah besar.

Hal ini sah-sah saja bagi pembaca yang tak begitu menguasai bahasa Inggris. Namun, bagi mereka yang lihai, bisa-bisa malah membingungkan. Malah bisa pula ditertawakan. Ristiana Manao termasuk mereka yang "gerah" jika menjumpai penggunaan bahasa Inggris yang keliru di dunia blog. "Di blog banyak saya lihat 'broken English' seperti itu. Maksudnya benar, tapi secara bahasa Inggris itu salah," kata Nana--panggilan akrab Ristiana.

Jika menjumpai hal itu, Nana, yang aktif ngeblog sejak 2004, langsung mengomentari dan melempar kritik. "Karena, kalau mau berbahasa Inggris, gunakanlah dengan baik dan benar," ujar wanita lajang berusia 34 tahun ini. Saking seringnya mengomentari penggunaan bahasa Inggris di blog, dia dijuluki "Bu Guru Nana".

Hal ini juga yang memunculkan ide membuat sebuah blog pelajaran bahasa Inggris. "Daripada saya cuma kasih komentar, kenapa tidak saya buat blog untuk belajar bahasa Inggris?" Maka, ia pun membuat Pedapa.com. (http://pedapa.com). Blog Pedapa, yang artinya "ranting pohon" (diambil dari bahasa kuno), sebenarnya diluncurkan pada 2006 dengan akun Blogspot. "Tapi sempat vakum satu tahun. Lalu pada Maret 2008 Saya buat lagi dengan alamat baru, Pedapa.com."

Blog yang diberi jargon "English is Fun" (bahasa Inggris itu menyenangkan) ini memang memberi pengajaran bahasa Inggris dengan cara berbeda agar menyenangkan. Dengan pengantar bahasa Indonesia, materi disajikan dengan gaya bahasa pergaulan anak muda sehari-hari. "Supaya lebih ngeblog dan mudah dimengerti," katanya.

Di Internet sebenarnya sudah banyak situs web untuk belajar bahasa Inggris, seperti yang dirilis BBC atau radio Australia. Tapi kebanyakan situs itu menggunakan pengantar bahasa Inggris. Ini, kata Nana, cocok untuk mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Tapi bagi mereka yang ingin sekadar memahami bahasa Inggris sehari-hari, lebih mudah jika diberi pengantar bahasa Indonesia.

Nana cukup berpengalaman sebagai guru bahasa Inggris. Sejak kuliah di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ia sudah mengajar di beberapa lembaga pendidikan. Perempuan yang sudah 10 tahun menetap di Bali ini juga mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak di lingkungan rumahnya. Tak mengherankan jika di blognya itu ia tekun melayani pertanyaan.

Sejak diluncurkan, Nana mendapat banyak sekali kiriman pertanyaan dari pembaca Pedapa.Com. Mereka bertanya via e-mail. Jika perlu dijelaskan panjang-lebar, ia menjawab lewat posting baru di blog Pedapa. "Kalau nggak, atau pertanyaannya sudah pernah saya posting, cukup dijawab lewat e-mail dan memberi link ke posting yang pernah dibuat," ujar Nana, yang kini Asisten Manajer HRD Hotel Westin Nusa Dua, Bali.

Salah satu topik yang di-posting-nya adalah tentang perbedaan kata "Dead", "Death", dan "Die". Ia menyajikannya dengan bahasa "gaul" dan santai tapi mudah dimengerti. Ia menuliskannya seperti ini:

Ketiga kata ini emang suka membingungkan para pengguna. Kapan sih benernya pake kata "die"? kapan "death"? kapan "dead"? Soalnya kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia, rasanya artinya sama aja.

Yuk kita mulai dari "die". "Die" ini kata kerja atau verb. pake contoh ya. "Her father died from cancer".

Jelas kan yah. Sekarang "dead". Kalo "die" itu kata kerja, "dead" itu kata sifat atau adjective.
Contoh, "The fire is dead" (perhatikan penggunaan to be "is"). "Beware of dead water" ("dead" di sini kata sifat yang menjelaskan water).

Nah! sekarang "death". "Death" itu kata benda atau noun. Contoh. "His death came as a terrible shock" (kematiannya mengejutkan).

Nah, jelas, kan? Jangan-jangan, Anda juga sering keliru.

- 21 Februari 2009

Sumber :
17 September 2009

Cara Belajar Bahasa Inggris Secara Efektif

Salah seorang pembaca blog ini mengirim pesan yang membuat saya terenyuh. Dia seorang mahasiswa jurusan Bahasa Inggris. Saat menulis pesan, dia sedang di semester 7. Dia mengaku belum bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan merasa ingin berhenti. Melalui email, dia meminta masukan motivasi ihwal pembelajaran bahasa Inggris. Tulisan ini saya tujukan untuk menjawab keresahan sang pengirim pesan. Juga siapa saja yang memerlukannya. Semoga bermanfaat.

Hal pertama yang harus kita pahami dalam mempelajari bahasa Inggris adalah realita bahwa bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi kita orang Indonesia. Konsekuensinya, kita jarang sekali bergaul dan berinteraksi dengan bahasa tersebut. Akibatnya, otak kita kurang mendapat asupan (input) kebahasainggrisan. Dengan bekal asupan yang minim, otak kita cenderung sulit mengolah segala proses pikiran yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Apalagi untuk menggunakan bahasa tersebut dalam berkomunikasi sehari-hari.

Untuk mengatasi keterasingan kita terhadap bahasa itu adalah dengan memaksa diri kita agar sesering mungkin bercengkrama dengan bahasa Inggris. Buatlah agar diri kita familiar dengan bahasa tersebut. Selama menjalaninya, sadarilah sepenuhnya bahwa belajar bahasa Inggris, dan bahasa manapun, adalah sebuah proses. Pelan tapi pasti, kemampuan kita akan meningkat seiring waktu.

Beberapa strategi di bawah ini bisa membantu kita meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris secara efektif.

Begini caranya.

  1. Ingatlah bahwa belajar bahasa adalah proses yang bertahap, bukan proses yang terjadi dalam 1×24 jam.
  2. Tentukan tujuan belajar Anda. Apa yang ingin Anda pelajari dan mengapa Anda perlu mempelajarinya?
  3. Jadikan belajar sebagai kebiasaan. Biasakan belajar hal baru setiap hari. Lebih baik belajar sedikit demi sedikit secara kontinyu, daripada belajar keras dua jam seminggu.
  4. Usahakan membaca teks berbahasa Inggris, baik itu koran, majalah, atau teks apapun, atau menonton film atau menyimak berita berbahasa Inggris. Lakukan ini setiap hari atau sesering mungkin.
  5. Pilih bahan ajar yang baik. Bagaimanapun, Anda tetap perlu belajar membaca, tata bahasa (grammar), menulis, berbicara, dan menyimak, sebagai satu kesatuan keterampilan berbahasa.
  6. Lakukan proses belajar itu secara konstan. Jika Anda belajar bahasa Inggris selama 10 menit setiap hari, bahasa Inggris akan memenuhi memori otak Anda. Jika Anda belajarnya sekali dalam seminggu, jangan harap bahasa itu memenuhi memori otak.
  7. Variasikan proses belajar Anda. Sebaiknya lakukan hal berbeda setiap hari agar membantu proses belajar empat bagian keterampilan berbahasa (baca, tulis, simak, bicara). Jangan terpaku pada satu aspek saja.
  8. Cari kawan belajar. Belajar bahasa secara berjamaah akan lebih menyenangkan dan memberi motivasi ganda.
  9. Pilih materi belajar yang sesuai dengan topic-topik yang Anda minati. Ini akan membuat proses belajar Anda menjadi lebih nikmat, menyenangkan, sehingga lebih efektif.
  10. Hubungkan pengetahuan tata bahasa dengan penggunaan keseharian. Belajar tata bahasa suatu bahasa tidak akan otomatis membuat Anda bisa menggunakan bahasa tersebut. Praktekkan secara aktif apa-apa yang sudah dipelajari.
  11. Buka mulut! Memahami suatu bahasa tidak berarti mulut Anda akan otomatis bisa berbicara dalam bahasa tersebut. Cobalah berbicara dalam bahasa Inggris dengan suara yang lantang. Awalnya mungkin akan terdengar aneh, tapi ini sangat efektif untuk proses belajar Anda.
  12. Bersabarlah dengan diri sendiri. Ingat bahwa belajar adalah suatu proses. Perlu waktu dan kontinuitas. Anda bukanlah computer yang memiliki tombol on dan off.
  13. Cobalah berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Menguasai grammar memang bagus. Tapi bisa berkomunikasi secara lisan dan tertulis dengan orang lain dalam bahasa Inggris, itu lebih bagus dan menyenangkan lagi.
  14. Manfaatkan Internet! Internet merupakan sarana belajar bahasa Inggris yang luar biasa lengkap, menyenangkan, dan mudah diakses.

Tiga pesan pamungkas untuk Anda:

  1. Ingatlah bahwa belajar bahasa Inggris adalah suatu proses.
  2. Bersabarlah dengan diri sendiri.
  3. Praktek praktek praktek.

Salam sukses!

Sumber :



17 September 2009